Kamis, 21 Juni 2012

[Review] Memori - Windry Ramadhina

Diposkan oleh Fhily Anastasya di 20.38 0 komentar
Judul Buku: Memori
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 312 Halaman
Genre: Mainstream Romance
Novel Indonesia


Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. 


Review:


Ah, Mae, dunia tidak sekelam yang kau perlihatkan kepadaku


Bercerita tentang seorang gadis bernama Mahoni, sekilas mendengar namanya kita pasti diingatkan pada Kayu.



Dia seorang arsitek yang bekerja di Virginia denganpartner kerjanya bernama Ron, yang ada bule nan perayu suka memanggilnya dengan nama Honey bukan Honi ataupun Mahoni. Romantic Home yang ditawarkan pada sepasang suami isteri ditolak mentah-mentah dan menginginkan desain yang biasa-biasa saja. Padahal Romantic Home adalah ide yang sangat brilliant menurutnya. Namun, Mahoni tetap keukeh dan mempertahankan pendiriannya sebagai arsitek, jika mereka tidak menginginkan rumah yang dia rancang, silahkan cari arsitek lain, dia tidak ingin harga dirinya sebagai arsitek diinjak-injak. Ya, begitulah Mahoni.Mahoni ini diceritakan sebagai 'korban' dari perceraian antara Papanya dengan Mae(ibunya). Mahoni berhenti memanggil ibunya dengan sebutan ibu semenjak dia merasa Mae kehilangan sosok keibuannya. Papanya juga yang dulu dia kagumi membuatnya patah hati dengan wanita lain dalam hidupnya. Grace. Wanita yang menjadi orang ketiga antara keluarga mereka. Mulai saat itu semuanya berubah sampai takdir membawanya ke Virginia.Namun kembali lagi takdir membawanya kembali ke Indonesia karena sebuah tragedi yang merenggut nyawa Papanya dan Grace. Rencananya hanya dua hari, namun siapa sangka bocah berumur 16 tahun, yang adalah adik tirinya, Sigi. Yang sejujurnya dia iri terhadap anak itu, karena artinya Kayu Damar yang merupakan kayu Favorit ayahnya. Berhasil mengubah rencana tersebut.Mahoni diminta omnya untuk tetap tinggal hanya untuk dua bulan. Tentu saja pada awalnya Mahoni menolaknya mentah-mentah. Itu artinya dia harus meninggalkan karirnya di Virginia yang sudah dia gapai dengan sulitnya. Tapi, akhirnya takdir menentukan untuk Mahoni tetap tinggal untuk dua bulan.Pertemuannya dengan Simon kembali setelah beberapa tahun. Ketika dengan tidak sengaja dia masuk ke sebuah restoran dan tertarik dengan arsitekturnya. Siapa lagi yang merancang kalau bukan Simon Marganda.Tawaran bekerja sama pun hinggap pada Mahoni di MOSS. Bersama Sofia yang adalah kekasih Simon, Mahoni menerima tawaran tersebut.Proyek awal Mahoni adalah membuat rumah dengan desain mediteran, tetapi Mahoni malah membuat Posmo sehingga proyek mereka gagal. Dan keras kepala Mahoni, seperti kejadian dahulu pada Romantic Home-nya Mahoni tetap keukeh mempertahankan Posmo-nya.Simon emosi kepada Mahoni karena tidak mau mendengarkannya, padahal dia sudah menyuruh Mahoni membuat dua desain.Mahoni memutuskan untuk mundur dari MOSS, dan merasa Jakarta tidak menarik kembali. Namun, Sofia menghubunginya kembali dan menawarkan kerja sama membuat desain untuk Cavila.Mulai dari situ keadaannya dengan Simon membaik lagi.Sampai terungkap hubungan Simon dan dirinya di masa lalu... Membuat dia harus merasakan kembali momen Godiva... Dan membuat Sofia-Simon-Mahoni berada sama seperti keadaan Mae-Papanya-Grace... Bukan, dia bukan sebagai Mae tapi sebagai Grace... Hingga dia tahu betapa tidak enaknya berada di posisi Grace... Apa hubungan Simon dan Mahoni di masa lalu? Apa yang selanjutnya terjadi? Silahkan baca Memori.

***




Well, beli novel ini karena melihat ratting goodreads bagus. Jadi saya tertarik membelinya. Setelah membaca semuanya saya lebih setuju kalau novel ini tetap memakai judul pertamanya yaitu Home. Membaca novel ini kita disuguhkan sejumlah pengetahuan tentang dunia arsitektur. Saya memang buta terhadap arsitektur ._. jadi big thanks jadi nambah pengetahuan hehehehe.Saya terkadang agak gimana gitu dengan sikap Mahoni yang keras kepala. Tapi, yah begitulah karakter Mahoni. Herannya, sikap keras kepalanya tidak bisa diterapkan saat dia di minta tetap tinggal. Hohoho. Dia dikalahkan oleh bocah bernama Sigi.Kadang agak mubazir dengan adanya Ron di awal ._. saya kira konfliknya bakal dengan Ron ternyata eh ternyata dengan Sofia ._.Tapi suka sama sikapnya Sofia two thumbs up.Maenya Mahoni juga seperti nggak dewasa-dewasa yah. Udah tua tapi galau terus. Kasihan. :O /plak.Kalau Simon, ya... lumayan-lah, masuk kategori warm :p *kabooor. Tapi tetap sweetkok. Apalagi di momen Godiva. Hehehehe.Lucu pas Simon bilang "Sial, aku dikalahkan bocah ingusan," hahahaha (?).





4 of 5 stars :)

Selasa, 19 Juni 2012

[Review] Lullaby - Rina Suryakusuma

Diposkan oleh Fhily Anastasya di 02.10 0 komentar
Judul Buku: Lullaby
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 halaman
Genre: Romance (Amore)
Novel Indonesia



Audy dan Rosalind memang dua gadis kembar, tapi Audy selalu merasa semua orang dalam keluarganya terlalu mengistimewakan dirinya dan mengasingkan Rosalind. Audy yakin ini semua karena kelainan jantung yang dideritanya. Bahkan hingga mereka dewasa, dan Audy menemukan pria impiannya, Rosalind tetap harus puas dengan sisa kasih yang terbelah, dan perasaan disisihkan sepanjang hidupnya.


Bersama Mardinanto Nolan, lelaki yang teramat mencintainya, Audy mengenal kebahagiaan yang tak pernah terpikir akan bisa dirasakannya. Namun Audy tak ingin Rosalind menderita karena dirinya. Ia ingin Rosalind juga merasakan kebahagiaan seperti dirinya. Dan ketika Audy diharuskan memilih antara pria impiannya atau saudari kembarnya, rahasia kelam yang mengungkung hidup Audy akhirnya terkuak.

***

Review:




Pada awal part bercerita tentang dua saudara kembar Audytha Amarilis Capelle dan Rosalind Alexandra Capelle. Dua saudara kembar yang sifatnya bertolak belakang. Audy yang easy going, dan Rose yang gemar menyendiri. Rose lebih suka di kamar dan menyelesaikan lukisannya. Audy yang bekerja membuat pergaulannya luas.
Audy yang merasa lebih diperhatikan dibandingkan Rose karena penyakit jantungnya. Dia merasa kalau saudara kembarnya itu sering disisihkan oleh keluarganya. Semua keluarganya. Padahal Rose selalu ada untuk Audy. Dia yang setia menjadi teman Audy berbagi.
Ada juga Mardinanto Albert Nolan alias Mardi. Teman kantor Audy yang menaruh hati padanya. Mereka berkenalan sejak tiga tahun dan semenjak itulah Mardi mengalami penolakan 4 kali oleh Audy. Padahal Audy punya perasaan yang sama dengan Mardi. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena Rose!
Keganjalan demi keganjalan yang memang dari awal cerita ini ternyata ada --dan saya baru menyadari di part-part sebelum fix itu-- baru sadar!
Tetapi Mardi tetap keukeh mempertahankan bahwa dia cinta pada Ami (nama panggilan khusus untuk membedakan Mardi yang dipanggil Di, jika dia ikut memanggil Audy maka akan berbunyi sama Di dan Dy, jadi dia memanggil dengan nama tengahnya Audy Amirilis, Ami) dia akan menunggu sampai kapanpun.
Audy menginginkan kebahagiaan yang sama hinggap pada Rose. Mempunyai pasangan juga. Mempunyai seseorang yang mencintainya.
Dan sepertinya Tuhan mengabulkannya saat mereka kembali ke rumah orang tua mereka di Bandung. Rose bertemu seseorang yang bisa membuatnya tersenyum, setelah pertengkarannya dengan Audy. Dan dia Armant.
Audy sangat senang sekali kalau Rose bertemu Armant berarti dia dan Mardi bisa menyatukan cinta mereka.
Adalah dr. Saptaji, yang menjadi dokter Audy sejak kecil. Dengan dokter ini Audy bisa berbagi dan bercerita panjang lebar tentang saudarinya yang sepertinya sedang jatuh cinta.
Dari situlah dokter mengatakan jika Rose menemukan seorang yang di cintainya. Audy harus merelakan Rose untuk tinggal di Bandung. Di sisi lain Audy juga berpikir bagaimana Rose tinggal di Bandung? Berarti dia akan jauh dari Rose? Dan bukannya ayah dan ibunya bersikap dingin pada Rose?
Namun dokter Saptaji berusaha meyakinkannya.
Dan benar saja Rose meminta untuk tinggal awalnya Audy tidak menyetujuinya. Tapi setelah pembicaraan yang cukup sengit Audy pun menyetujui. Saat hendak mengatakan itu pada ibunya. Ibunya pun jatuh pingsan!
Semenjak itu keganjalan demi keganjalan mulai terkuak sampai kejadian di Jakarta Audy pingsan dan masuk rumah sakit!
Menyebabkan Mardi yang tidak mau penantiannya sia-sia mengatakan kebenaran pada Audy! Kebenaran seperti apakah itu? Baca selengkapnya di Lullaby

##

Padahal saya sudah merasakan nyeseknya jadi anak yang tersisih seperti Rose! Eh ternyata :x

Aaaaaaaa suka banget sama buku ini :) banget-bangetan... Aaaaaaa suka banget sama Mardinanto Nolan :') kapan saya ketemu Mardinanto Nolan lain di kehidupan nyata saya? :O


Suka sekali sama karakternya Mardi, sweetest!
Lihat saja ini:

Ya Tuhan, ia bisa melihat cinta di sorot mata Mardi. Cinta yang sama, yang berbalut kesabaran dan pengertian. Cinta yang tidak akan menyerah. Cinta yang penuh perjuangan dan tekad. (Pandangan Audy tentang Mardi hal (33)


“Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi?,”
“Mm...” Audy gelagapan, berpikir keras.
“Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya dia tidak usah kuatir lagi padamu?,” sambung Mardi, tak ingi disela. (Percakapan Mardi dan Audy hal 22)


“Audytha Amarilis Capelle, aku cinta padamu. Dan aku akan menunggumu sampai kau siap. Tidak peduli sakit jantung atau tidak, Rose atau siapapun yang membuatmu bimbang akan tetap menunggumu.”


“Ami, aku cinta padamu,” Mardi mengulang kata-katanya dengan lembut. “Dan cinta itu tak berubah, bahkan jika aku berharap demikian. Karena memang semua akan lebih mudah jika cinta ini hilang, Mi. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu. Aku sadar, biarpun jalan kita sulit dan berliku, penuh tanjakan dan tikungan, tapi aku tetap memilih untuk melewati semua ini bersamamu.”


Aaaaaa sekali lagi... Adegan lamaran selain A Walk to Remember kesukaan saya. Ini favorite yang lain jugaaaa aaaaa...

Dan Audy tidak tahu bagaimana awal mulanya, yang jelas kini cincin itu telah melingkar sempurna. Cincin yang dulu ia tolak sejak entah kapan. Cincin emas putih bertahtakan permata indah di atasnya.
Mardi menyelipkan selembar kertas tebal bernuansa peach dengan setangkai mawar merah tua terikat di kertas tersebut dalam genggaman tangannya.
Audy menunduk, membaca sebait puisi yang tercantum di sana. Matanya berkaca bibirnya tersenyum.
“Jalan di depan kita tidak akan selalu lurus dan mudah, Mi. Namu bersamamu, aku mau menemupuh risiko itu.” Mardi mengecup kening Audy lembut. “You know, I fell so lucky to have you the best woman ever, to accompany me in this rough journey of life. Yes, I am so lucky. Amarilis, will you marry me?”
Dan kali ini, tidak ada kerguan lagi.
Tanpa perlu Audy menjawabnya, Mardi sudah tahu apa jawabannya. Ia bisa melihat dengan jelas sinar yang membias di mata gadis itu.
Mardi memeluk Audy erat, mendekap wajah gadis yang ia cintai di dadanya yang bidang, merasakan detak jantung mereka menyatu dan berpacu cepat.
Dalam keadaan itu Audy tahu, ia telah menemukan pelabuhan hati tempat bersauh untuk selamanya.
I know miracles do come true, the moment I lay my eyes on you.
So beautiful, that love as shown us in a special way...
Puisi Mardi untuk Audy:
I know I will always love you
And there won't be another like you do
I want to spend my whole life through
With you beside me till old we grew
Years will pass us by, decades too
But my love for you will always stay true
I am not sure, whether you would want to
But I'll ask anyway, “Marry me, will you?”
P.S I do love you, Amarilis
Marry me?
Love, Mardinanto Albert Nolan 



Oh May Gattttt!!! Sweet kuadraaaat aaaaaaaaAaaaaaaaaa (?) *gila ._.v

Yeaaahh...

Saya juga suka karena di sini ada mengajarkan nilai religius :)
»Kasih Agape. Kasih yang hanya tahu memberi.
»One thing at the time (?) *lho
»Dalam kepercayaannya, orang yang meninggal sudah tidak mendapat tempat di dunia. Dan lagi Audy percaya, seperti kata ibunya, Rose sudah tenteram di rumah Bapa di surga. Ia yang tertinggal di dunia, ia yang masih berjuang.

Kata2 yang tidak seharusnya memakai (-)
Se-perti (hal 1)
Ka-lau (hal 18)
Bi-lang (hal 24)
Terlin-dung (hal 69)
Na-manya (hal 85)
Dll.

Quotes:

“Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan” (hal 17)

“Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kau tebak sebelumya. Jalinan yang tak pernah kau duga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia” (hal 101)

“Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan” (hal 118)

“Cinta yang tulis ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka” (hal 118)

“Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” (hal 130)

“When you lost one thing, you'll find another for sure” (hal 231)


The favorite! Recommended!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

The Montage of My Books Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review