Tampilkan postingan dengan label Amore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amore. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2013

[Review] Jejak Kenangan - Rina Suryakusuma

Diposting oleh Fhily Anastasya di 20.56 0 komentar

Judul Buku: Jejak Kenangan
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 Halaman
Genre: Romance (Amore)
Novel Indonesia

Sinopsis


Duka masa lalu membayangi Allysa Gumulya. Berawal dari ayah yang tak pernah dikenalnya, kepergian ibunda yang sangat dicintainya, juga masa remaja penuh keprihatinan karena perbuatan gadis kejam yang tak berperasaan.

Ally bersumpah, demi malam yang dilaluinya dengan tangis, kesempatan untuk membalas luka masa lalunya akan tiba. Dan saat yang ditunggu itu memang tiba. Gadis masa lalu itu, Nadia Wibrata, hadir sebagai tunangan Ivan Adidjaja, pria yang sangat Ally cintai.

Solusinya terasa sangat mudah untuk Ally. Rebut Ivan, buat pria itu mencampakkan Nadia. Tapi, tidak semua kejadian berjalan seperti yang Ally rencanakan. Ketika Ivan mengetahui motif tersembunyi Ally, ego pria itu terluka.

Kini untuk kedua kalinya Ally harus berjuang. Kali ini bukan untuk dendam masa lalunya, tapi demi cinta sejatinya.…

***

Demi malam yang dilalui Ally dengan tangis, Ally bersumpah gadis itu akan menuai perbuatannya kepada Ally, suatu saat dia akan merasakan apa yang dirasakan Ally. Ya, Ally bersumpah!

Allysa Gumulya, menyimpan dendam kesumat pada seorang gadis karena kejadian masa lalunya. Gadis itu yang membuat masa SMA-nya menjadi masa yang tak akan terlupakan. Masa yang dilaluinya dengan cemooh dan dengan tangis ditiap malamnya. Hanya karena dia meminta bantuan padanya, ketika ibunya sakit. Dia membongkar kehidupannya pada gadis itu. Dan seluruh sekolah tahu, sehingga sekolah menjadi neraka untuknya.
6 tahun kemudian, saat Ally berusia 23 tahun. Saat dia dengan gemilang meniti karir di Amsoft. Dia dihadapkan pada sebuah tender yang mengalihkan semua pekerjaannya. Tender yang sangat mudah yakni merancang kartu pernikahan. Tentu saja, baginya itu hanya seujung kuku. Semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, ini yang membuatnya tidak mudah adalah kartu yang akan dirancangnya adalah kartu pernikahan anak pak Joseph Wibrata, Partner sekaligus orang kepercaan Mr. Walker. Jadi apapun harus dikerjakan secara sempurna.
Ally dengan kemampuannya membuat Bu Fara pemimpinnya menunjuknya.
Ivan Adidjaja. Allysa bertemu dengannya secara tidak sengaja karena keteledoran Ally lupa meng-absen dirinya. Dari situlah secara Oops! Ally bertemu dengan Ivan. Dan ternyata Ivan adalah tunangan dari anak Joseph Wibrata. Ivan digambarkan pada sosok yang charming dan tentu mempesona.
Dari situlah Ally dan Ivan mulai akrab. Lewat pembicaraan-pembicaraan ringan mengenai kartu pernikahannya sebuah rasa mulai berkembang. Rasa yang tidak pernah Ivan dapatkan dari tunangannya. Tidak pernah!
Ally mengerti segala sesuatu tentang Ivan. Sehingga Ivan mulai memikirkan lagi tentang rencana pernikahannya dengan tunangannya itu.
Awalnya, Ally ingin mundur perlahan ketika menyadari bahwa dia mulai mempunya rasa yang dinamakan cinta pada Ivan. Tentu saja itu terlarang karena Ivan adalah tunangan orang.
Tapi, apa yang terjadi kemudian sunggu tak diduganya! Tunangan Ivan adalah Nadia Valencia Wibrata! Gadis yang membuat masa lalunya kelam, gadis yang menghancurkan masa SMA-nya. Gadis yang dibencinya bukan main!
Rencana semua berubah! Ally tidak akan mundur teratur lagi! Kesempatan membalas dendam kesumatnya terbuka lebar bahkan datang sendiri menghampirinya! Dengan Ivan, Ally menjalankan affair yang --awalnya-- manis. Apalagi dia memang cinta pada Ivan. Apa salahnya sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui!
Namun, kejujuran menyakitkan kembali. Diulang tahunnya yang ke 24 menjadi ulang tahun yang luar biasa untuknya. Dendamnya terbalaskan, tapi semuanya terbongkar dan mesti ada yang dikorbankan. Baca kisah selengkapnya dalam Jejak kenangan.

***

Well, gara-gara membaca Lullaby saya jadi tertarik membaca novel milik ci Rina Suryakusuma lagi. *curcol dikit* Mumpung baru hijrah dari Timika (yang nggak ada Gramed-_-) ke Manado jadi nggak buang-buang kesempatan buat nyari bukunya. Jejak Kenangan, Postcard from neverland dan Lukisan keempat jadi incaran saya bersama beberapa buku dari pengarang lain pas jalan-jalan ke Gramedia. Dan dari semua catatan buku yang saya bawa hanya ada dua *nangisnangis* yaitu Jejak Kenangan dan Postcard from Neverland. Jadinya beli deh.

Allysa ini diceritakan sebagai sosok yang tegar dan kuat. Salut deh sama dia! tapi yang nggak salutnya yah dendamnya itu loh. Tapi kalau saya ada di posisinya mungkin akan seperti itu. namanya juga manusia.
Saya suka juga sahabat yang baik seperti Dianna, yang mendukung ketika tindakan Ally benar, tidak sungkan menegur kalau Ally salah.


"Diatas langit selalu ada langit Ally."-- Dianna (hal 162)


"Just hope and pray, sis. Love will find a way." -- Dianna (hal 246)

Suka juga sama Bu Fara sepertinya dia pemimpin yang bijak.
"Seperti yang kamu bilang, itu bukan urusan saya. Tapi, personally Allysa, you'd made a great couple! Karena itulah saya sayangkan semuanya kamu buang hanya karena sampa lama yang seharusnya sudah lama kamu singkirkan. Allysa, jangan menyimpan dendam."
"Kamu bukan Tuhan. Kamu bukan malaikat. Suatu saat nanti, bahkan dulu, kamu pasti pernah bersalah pada seseorang, Allysa. Alangkah baiknya jika kita bisa membuka pintu maaf lebar-lebar. Dengan begitu, mungkin suatu saat Tuhan pun akan membuka jalan yang kita butuhkan. Tidakkah kamu sependapat?"
"Kalau kita mau memaafkan orang lain, di atas sana Tuan akan tersenyum dan mengingat apa yang kita tabur. Mengenai nasib musuh-musuh kita."
"Kamu tak usah kuatir. Tuhan melihat semua. Tuhan tidak tidur, Allysa. Biarlah pembalasannya kita serahkan pada yang lebih berhak. Pada Yang Di Atas."
"Yang menjadi bagian kita, yaitu memaafkan dan melupakan, tetap kita lakukan, dan Tuhan pasti akan melakukan sisanya. Percayalah, Allysa, biarpun sulit, jika Tuhan yang membalas, jika Dia bertindak, itu akan lebih baik dibandingkan jika tangan kecil kita ini yang merancang pembalasan." (Hal 218-219)

Suka banget sama nasihatnya Bu Fara itu. Nilai religiusnya dapet banget :) dan ngena banget untuk Ally.


Beberapa quotes yang saya suka:



"The greatest thing in life cannot be seen or explained with words. It only can be felt, by heart."-- Hal. 65
"Cinta tidak harus mengorbakan diri menjadi pihak yang lebih rendah. Cinta itu tidak harus selalu menang atau selalu mengalah. Cinta berarti berkompromi. Cinta berarti meleburkan dua hati tanpa mematikan jati diri masing-masing. Cinta berarti berkomitmen untuk mempraktikan makna sesungguhnya dari "memberi dan menerima" dalam kehidupan ini."-- Hal 102.
"Ada yang lebih berharga dari pada dendam. That's called true love." -- Hal 214.
"Nothing she can do but pray, thank the Lord for His everlasting blessings." -- Hal 258.



Emailnya Ivan juga unyu yah ._.v

Life is short
They say it takes a minute to find a special person (like I found you)
An hour to appreciate them (yeah, just like I do to you)
A day to love them
But then, an entire life to forget them
Just a little phrase to let you know...
You'll be never forgotten

Yup, Ally, you'll be never forgotten
Cheers,
Ivan Adidjaja.



Membaca karya-karya ci Rina, saya mulai terbiasa dengan gaya penulisannya tapi tidak dengan kata-kata yang inkonsisten contohnya: Pengin, Pingin, Pengen ._. tiga-tiganya dipakai ._. jadi nggak konsisten.
Tapi untuk ceritanya saya tetap suka :)

4 of 5 stars :)

[Review] Postcard from Neverland - Rina Suryakusuma

Diposting oleh Fhily Anastasya di 20.49 0 komentar

Judul Buku: Postcard from Neverland
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 Halaman
Genre: Romance (Amore)
Novel Indonesia

Sinopsis


Hidup identik dengan kesulitan. Paling tidak, itulah yang dialami Ami Siswoyo. Gadis cantik, single, muda, tapi dari keluarga kurang mampu. Ami terpaksa putus kuliah di tengah jalan, bekerja jadi pelayan kafe, dilecehkan dan ditawar-tawar orang seperti barang. Memuakkan!

Hanya satu hal yang memberi Ami kekuatan untuk tetap bermimpi dan bisa mengubah nasib, yaitu kartu-kartu pos kiriman almarhum ayahnya yang meninggal di tahun terakhir studi di Jerman.

Sampai pada satu kesempatan, Ami bekerja sebagai pelayan di tempat Joshua Leinard. Pria bule berusia 44 tahun yang peduli padanya ketika semua orang menyudutkannya. Pria yang menghargainya ketika semua orang menyepelekannya. Pria yang mencintainya tanpa pamrih dan memberinya kebahagiaan tanpa batas.

Dan hidup Ami berubah!

Hanya saja, mampukah mereka bertahan dari sejuta rintangan? Mereka hidup di dua dunia yang berbeda. Sanggupkah mereka membangun jembatan untuk menyatukan cinta mereka?

*****

"Kenyataannya, life is not that simple. Mau penghargaan? Lakukan usaha keras untuk mendapatkannya. Fight for it!."


Ya, hidup memang tidak simple itu dibuktikan Ami Amarell Siswoyo, gadis 21 tahun. Saat masih duduk di bangku kuliah semester 5, ayahnya meninggal dan semuanya berubah. Ami terpaksa harus di-drop-out karena tidak bisa membayar uang kuliahnya. Oleh karena itu, Ami sebagai anak tertua harus banting tulang bekerja membiayai kehidupan dia, Mamanya, dan adiknya yang masih berada di bangku SMA, Fiara.
Ami rela bekerja di Lamborghini Cafe, sebagai waitress. Dan hanya karena kelakuan tidak senonoh salah satu pelanggan Cafe tempatnya bekerja yang dengan berani menciumnya. Dan dengan alasan mempertahankan harga diri, Ami berani melawan dengan menendang bagian sensitif pria tersebut. Tapi, untungnya ada bantuan dari seorang lelaki Indo yang walaupun terlambat. Namun, nasib baik tidak berada di tangan Ami. Dia dipecat tanpa pesangon dari kafe tersebut.
Ami harus mencari pekerjaan baru lagi. Dengan Modal kenekatan bersama Lusi sahabatnya, Ami yang hanya mengantongi ijazah SMA melamar di hotel Grand Castella.
Tapi, lagi-lagi penghinaan yang diterimanya. Dia dianggap perempuan murahan yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan posisi yang bagus. Tentu saja Ami menolak mentah apa yang ditawarkan Damarta. Dia pikir siapa dia! Seenaknya memandang rendah Ami.
Disaat-saat seperti itu, tiba-tiba muncul seorang Bule berperawakan seperti Simon Cowell salah satu juri American Idol yang galak nian di hadapan mereka dan membuat si Damarta pucat. Ami memang tidak melaporkannya, walaupun sepertinya lelaki bule itu bosnya. Dia mengambil langkah dan pergi.
Namun, sang satpam memanggilnya dan membawanya di hadapan sebuah ruangan yang bertuliskan "Joshua Leinhard, Directur". Dia di hadapkan kembali pada bule yang mirip Simon Cowell. Dengan sebuah tawaran yang awalnya dia pikir adalah sebuah penghinaan lagi. Tapi ternyata tidak. Itu adalah sebuah peluang untuk Ami bisa mengumpulkan uang. Membiayai pendidikan adiknya dan keluarga kecilnya itu. Ami menerima pekerjaan yang ditawarkan pria Bule bernama Joshua Leinhard dan berumur 44 tahun itu. Memang tidak sepadan dengan kecantikan Ami untuk menjadi Pembantu di keluarga Mr. Leinhard.
Di hari pertamanya bekerja Ami bingung untuk mengenakan pakaian apa. Karena jujur saja, menjadi pelayan sama sekali tidak ada di dalam daftar pekerjaan yang dia inginkan.
Setelah masuk ke dalam kehidupan Mr. Leinhard, Ami tahu banyak hal tentang Mr. Leinhard. Dia ternyata duda beranak satu yang sudah bercerai dari isterinya dua belas tahun silam.
Kebersaam dirinya dan Mr. Leinhard yang lebih senang dipanggil Josh ini akhirnya terangkai. Benih-benih cinta tumbuh di dalam hati keduanya. Tanpa memandang umur dan perbedaan budaya mereka. Ternyata cinta menyusup ke dalam hati keduanya. Sosok Josh yang seperti menggantikan ayahnya di dalam hidup Ami. Dan sosok Ami yang sangat care terhadap Josh. Membuat keduanya yang memang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya terjebak dalam sebuah rasa yang dinamakan cinta.
Di dalam mobil yang menjadi saksi materai cinta mereka.
Awalnya, semua berjalan indah. Josh yang hangat. Ami yang pengertian. Semua tetap berjalan, Ami memang pelayan yang berstatus sebagi kekasih Josh. Ami tidak menceritakan dulu pada Mamanya, Fiara juga sahabatnya Lusi. Dia tetap bungkam dan menyimpan kisah indahnya dengan Josh.
Sampai Dennis Leinhard datang sebagai putra dari Mr. Leinhard. Semua menjadi runyam, kala kecemburuan melingkupi Josh saat melihat Ami bercerita dengan hangat bersama Dennis yang adalah putranya. Dan tentu saja Dennis belum mengetahui bahwa Ami adalah kekasih ayahnya.
Untuk pertama kalinya, mereka bertengkar hebat. Dan untuk pertama kalinya, sebuah hinaan keluar dari mulut Josh yang membuat hati Ami sakit. Bagaimana bisa hinaan itu dikeluarkan oleh kekasihnya sendiri yang berjanji melindunginya dari cercaan?
Namun, untuk kesekian kalinya Josh berasil meyakinkan pada Ami bahwa dia bersungguh-sungguh akan melindunginya apapun yang terjadi karena dia mencintainya. Dan untuk membuktikan pada Josh bahwa dia pun tulus menyayangi Josh. Ami pun menyerahkan yang paling berharga dari seorang gadis pada Josh dengan sukarela.
Ternyata hidup memang rumit, bagaimana jika Dennis ternyata menyimpan perasaan cinta pada Ami? dan ternyata Dennis adalah pria Indo yang membawa bantuan terlambat padanya saat dilecehkan salah satu pelanggan kafe? Bagaimana jika Maggie (mantan isteri Josh) kembali dan ingin rujuk dengan Josh? Bagaimana kisah cinta Josh dan Ami yang dirundung banyak perbedaan dan banyak rintangan? Baca selengkapnya dalam Postcard from Neverland.

***

Kyaaaaa... kisah hidup maupun cinta Ami Siswoyo memang tidak mudah. Dan saya rasa semua manusia pun sama hanya dengan cara yang berbeda. Cuma rada cengo Ami yang berumur 21 tahun mau menjalin hubungan cinta denga duda beranak satu berumur 44 tahun yang berarti beda 23 tahun dengannya(berarti kayak saya dan ayah saya-_____-yaampun). Terlebih lagi memiliki anak lelaki yang usianya hanya setahun lebih muda dari Ami. Mungkin benar, Ami merindukan figur seorang ayah makanya dia jatuh cinta pada sosok yang terpaut jauh dengannya. Dan dengan Josh, Ami mendapatkan semuanya itu.
Disini, saya menemukan contoh sosok sahabat yang baik sama seperti halnya Dianna dalam Jejak Kenangan. Disini ada Lusi yang juga sahabat Ami yang baik dan sangat mendukung Ami.
Cumanya... Saya nggak nyaman saat ada pendeskripsian yang menyebut Josh itu cowok whuuuuaaaaa T_T cocok nggak sih Pria berusia 44 tahun dikatakan sebagai cowok???!!!
Saat muncul juga tokoh Maggie. Saya agak gimana gitu pas tahu Josh cerai hidup. Soalnya biasanya dalam novel-novelnya ci Rina itu memuat banyak pelajaran religi. Tapi kali ini kalau ada Maggie, berarti agak melenceng sedikit dari konsep religi seperti: "Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia." :p
and well, sepertinya memang ci Rina tidak melupakan hal itu ketika saya tahu sebenarnya. Saya langsung tersenyum.
Meski cerita ini model yang saya bisa tebak tapi saya suka dengan cara pengemasannya. Apalagi seperti biasa dengan akhir yang sweet khas ci Rina.
cuma satu yang jadi pertanyaan saya? KENAPA JUDULNYA MESTI POSTCARD FROM NEVERLAND???? T_T berasa nggak nyambung dengan isinya apalagi disini tidak di ceritakan secara detail tentang postcard-postcard tersebut.
Jujur saja, saya pernah membayangkan sebelum membaca ini, mungkin ceritanya agak sedikit bermain dengan fantasi Ami yang menerima postcard-postcard yang dikira dari ayahnya di Jerman tapi ternyata dari Neverland (?). Yah itu bayangan saya awalnya.

Seperti biasa, suka dengan quotes yang ada di dalam novel-novelnya ci Rina:


"Benar, realitas hidup bukan untuk disesali, tapi dijalani. Suatu hari, jika waktunya tiba, dia akan memperoleh berkatnya juga. Sukses merupakan gabungan waktu Tuhan dan usaha yang dilakukan manusia untuk mencapainya." -- Hal 17-18
"Tidak ada orang yang bisa mengatur, siapa harus jatuh cinta kepada siapa serta pada waktu apa. Begitulah. Kita jatuh cinta dan semua terjadi tanpa rekayasa." -- Hal 76
"The feeling, the journey, the love, they all worth the fight." -- Hal 101
"Yesterday is a past, there's nothing you can do about it. Tomorrow is a future, it's beyond your ability to control. But today is a gift, Ami, for you to enjoy and be grateful of it. That's why it's called a present." -- Hal 120 (sekilas mengingatkan saya pada quote dari Bill Keane)
"Jangan pernah menghakimi orang dari apa yang kamu lihat." (Josh) -- hal 237
"Ada saatnya kita berjuang untuk mempertahankan seseorang yang kita cintai. Dan ada saatnya juga kita berjuang untuk merelakan hati melepas seseorang, hanya karena kita tahu yang kita lakukan itu benar." -- (Lusi) -- hal 250



4 of 5 stars :)


Love will find the way

Selasa, 19 Juni 2012

[Review] Lullaby - Rina Suryakusuma

Diposting oleh Fhily Anastasya di 02.10 1 komentar
Judul Buku: Lullaby
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 halaman
Genre: Romance (Amore)
Novel Indonesia



Audy dan Rosalind memang dua gadis kembar, tapi Audy selalu merasa semua orang dalam keluarganya terlalu mengistimewakan dirinya dan mengasingkan Rosalind. Audy yakin ini semua karena kelainan jantung yang dideritanya. Bahkan hingga mereka dewasa, dan Audy menemukan pria impiannya, Rosalind tetap harus puas dengan sisa kasih yang terbelah, dan perasaan disisihkan sepanjang hidupnya.


Bersama Mardinanto Nolan, lelaki yang teramat mencintainya, Audy mengenal kebahagiaan yang tak pernah terpikir akan bisa dirasakannya. Namun Audy tak ingin Rosalind menderita karena dirinya. Ia ingin Rosalind juga merasakan kebahagiaan seperti dirinya. Dan ketika Audy diharuskan memilih antara pria impiannya atau saudari kembarnya, rahasia kelam yang mengungkung hidup Audy akhirnya terkuak.

***

Review:




Pada awal part bercerita tentang dua saudara kembar Audytha Amarilis Capelle dan Rosalind Alexandra Capelle. Dua saudara kembar yang sifatnya bertolak belakang. Audy yang easy going, dan Rose yang gemar menyendiri. Rose lebih suka di kamar dan menyelesaikan lukisannya. Audy yang bekerja membuat pergaulannya luas.
Audy yang merasa lebih diperhatikan dibandingkan Rose karena penyakit jantungnya. Dia merasa kalau saudara kembarnya itu sering disisihkan oleh keluarganya. Semua keluarganya. Padahal Rose selalu ada untuk Audy. Dia yang setia menjadi teman Audy berbagi.
Ada juga Mardinanto Albert Nolan alias Mardi. Teman kantor Audy yang menaruh hati padanya. Mereka berkenalan sejak tiga tahun dan semenjak itulah Mardi mengalami penolakan 4 kali oleh Audy. Padahal Audy punya perasaan yang sama dengan Mardi. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena Rose!
Keganjalan demi keganjalan yang memang dari awal cerita ini ternyata ada --dan saya baru menyadari di part-part sebelum fix itu-- baru sadar!
Tetapi Mardi tetap keukeh mempertahankan bahwa dia cinta pada Ami (nama panggilan khusus untuk membedakan Mardi yang dipanggil Di, jika dia ikut memanggil Audy maka akan berbunyi sama Di dan Dy, jadi dia memanggil dengan nama tengahnya Audy Amirilis, Ami) dia akan menunggu sampai kapanpun.
Audy menginginkan kebahagiaan yang sama hinggap pada Rose. Mempunyai pasangan juga. Mempunyai seseorang yang mencintainya.
Dan sepertinya Tuhan mengabulkannya saat mereka kembali ke rumah orang tua mereka di Bandung. Rose bertemu seseorang yang bisa membuatnya tersenyum, setelah pertengkarannya dengan Audy. Dan dia Armant.
Audy sangat senang sekali kalau Rose bertemu Armant berarti dia dan Mardi bisa menyatukan cinta mereka.
Adalah dr. Saptaji, yang menjadi dokter Audy sejak kecil. Dengan dokter ini Audy bisa berbagi dan bercerita panjang lebar tentang saudarinya yang sepertinya sedang jatuh cinta.
Dari situlah dokter mengatakan jika Rose menemukan seorang yang di cintainya. Audy harus merelakan Rose untuk tinggal di Bandung. Di sisi lain Audy juga berpikir bagaimana Rose tinggal di Bandung? Berarti dia akan jauh dari Rose? Dan bukannya ayah dan ibunya bersikap dingin pada Rose?
Namun dokter Saptaji berusaha meyakinkannya.
Dan benar saja Rose meminta untuk tinggal awalnya Audy tidak menyetujuinya. Tapi setelah pembicaraan yang cukup sengit Audy pun menyetujui. Saat hendak mengatakan itu pada ibunya. Ibunya pun jatuh pingsan!
Semenjak itu keganjalan demi keganjalan mulai terkuak sampai kejadian di Jakarta Audy pingsan dan masuk rumah sakit!
Menyebabkan Mardi yang tidak mau penantiannya sia-sia mengatakan kebenaran pada Audy! Kebenaran seperti apakah itu? Baca selengkapnya di Lullaby

##

Padahal saya sudah merasakan nyeseknya jadi anak yang tersisih seperti Rose! Eh ternyata :x

Aaaaaaaa suka banget sama buku ini :) banget-bangetan... Aaaaaaa suka banget sama Mardinanto Nolan :') kapan saya ketemu Mardinanto Nolan lain di kehidupan nyata saya? :O


Suka sekali sama karakternya Mardi, sweetest!
Lihat saja ini:

Ya Tuhan, ia bisa melihat cinta di sorot mata Mardi. Cinta yang sama, yang berbalut kesabaran dan pengertian. Cinta yang tidak akan menyerah. Cinta yang penuh perjuangan dan tekad. (Pandangan Audy tentang Mardi hal (33)


“Bagaimana cara kamu bilang pada matahari supaya dia jangan terbit lagi?,”
“Mm...” Audy gelagapan, berpikir keras.
“Bagaimana cara kau bilang pada orang yang mencintaimu sepenuh hati, supaya dia tidak usah kuatir lagi padamu?,” sambung Mardi, tak ingi disela. (Percakapan Mardi dan Audy hal 22)


“Audytha Amarilis Capelle, aku cinta padamu. Dan aku akan menunggumu sampai kau siap. Tidak peduli sakit jantung atau tidak, Rose atau siapapun yang membuatmu bimbang akan tetap menunggumu.”


“Ami, aku cinta padamu,” Mardi mengulang kata-katanya dengan lembut. “Dan cinta itu tak berubah, bahkan jika aku berharap demikian. Karena memang semua akan lebih mudah jika cinta ini hilang, Mi. Tapi sekali lagi, tidak semudah itu. Aku sadar, biarpun jalan kita sulit dan berliku, penuh tanjakan dan tikungan, tapi aku tetap memilih untuk melewati semua ini bersamamu.”


Aaaaaa sekali lagi... Adegan lamaran selain A Walk to Remember kesukaan saya. Ini favorite yang lain jugaaaa aaaaa...

Dan Audy tidak tahu bagaimana awal mulanya, yang jelas kini cincin itu telah melingkar sempurna. Cincin yang dulu ia tolak sejak entah kapan. Cincin emas putih bertahtakan permata indah di atasnya.
Mardi menyelipkan selembar kertas tebal bernuansa peach dengan setangkai mawar merah tua terikat di kertas tersebut dalam genggaman tangannya.
Audy menunduk, membaca sebait puisi yang tercantum di sana. Matanya berkaca bibirnya tersenyum.
“Jalan di depan kita tidak akan selalu lurus dan mudah, Mi. Namu bersamamu, aku mau menemupuh risiko itu.” Mardi mengecup kening Audy lembut. “You know, I fell so lucky to have you the best woman ever, to accompany me in this rough journey of life. Yes, I am so lucky. Amarilis, will you marry me?”
Dan kali ini, tidak ada kerguan lagi.
Tanpa perlu Audy menjawabnya, Mardi sudah tahu apa jawabannya. Ia bisa melihat dengan jelas sinar yang membias di mata gadis itu.
Mardi memeluk Audy erat, mendekap wajah gadis yang ia cintai di dadanya yang bidang, merasakan detak jantung mereka menyatu dan berpacu cepat.
Dalam keadaan itu Audy tahu, ia telah menemukan pelabuhan hati tempat bersauh untuk selamanya.
I know miracles do come true, the moment I lay my eyes on you.
So beautiful, that love as shown us in a special way...
Puisi Mardi untuk Audy:
I know I will always love you
And there won't be another like you do
I want to spend my whole life through
With you beside me till old we grew
Years will pass us by, decades too
But my love for you will always stay true
I am not sure, whether you would want to
But I'll ask anyway, “Marry me, will you?”
P.S I do love you, Amarilis
Marry me?
Love, Mardinanto Albert Nolan 



Oh May Gattttt!!! Sweet kuadraaaat aaaaaaaaAaaaaaaaaa (?) *gila ._.v

Yeaaahh...

Saya juga suka karena di sini ada mengajarkan nilai religius :)
»Kasih Agape. Kasih yang hanya tahu memberi.
»One thing at the time (?) *lho
»Dalam kepercayaannya, orang yang meninggal sudah tidak mendapat tempat di dunia. Dan lagi Audy percaya, seperti kata ibunya, Rose sudah tenteram di rumah Bapa di surga. Ia yang tertinggal di dunia, ia yang masih berjuang.

Kata2 yang tidak seharusnya memakai (-)
Se-perti (hal 1)
Ka-lau (hal 18)
Bi-lang (hal 24)
Terlin-dung (hal 69)
Na-manya (hal 85)
Dll.

Quotes:

“Tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan” (hal 17)

“Yah, kadang aneh bagaimana hidup bisa membawamu ke jalinan cerita yang tak pernah kau tebak sebelumya. Jalinan yang tak pernah kau duga ada. Tahu-tahu kau sudah ada di tempat ini, bersama orang yang kemarin asing bagimu. Dan kamu merasa bahagia” (hal 101)

“Tawa adalah obat paling manjur untuk kesedihan” (hal 118)

“Cinta yang tulis ialah terapi paling sempurna untuk semua sakit dan duka” (hal 118)

“Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik” (hal 130)

“When you lost one thing, you'll find another for sure” (hal 231)


The favorite! Recommended!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

The Montage of My Books Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review